Bendera Setengah Tiang untuk Indonesia


Sebagai pembuka, saya ingin mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya untuk korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100. Semoga arwah mereka diberikan tempat yang terbaik dan keluarga yang ditinggalkan diberi penghiburan.

Kali ini saya bukan ingin membahas peristiwa duka tersebut. Bendera setengah tiang yang ingin saya sampaikan adalah tentang matinya Indonesia yang sesungguhnya. Kenapa mati? Jelas, karena Indonesia sudah lumpuh, sekarat, dan tinggal menunggu waktu –mati- jika keadaan –sekarat- ini dibiarkan.

Banyak peristiwa yang sedang bergejolak di negara kita. Mulai dari kasus Irshad Manji, Justin Bieber, hingga yang paling heboh sekarang –Mother Monster- Lady Gaga. Beberapa peristiwa di atas paling tidak sudah menunjukkan –kesekaratan- demokrasi Indonesia.

Saya ingat sekali, dulu saat jaman di SMA, saya disuguhi mata pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) -entah sekarang jadi apa namanya-. Di pelajaran itu benar-benar digemborkan Indonesia adalah bangsa yang besar. Dengan Ideologi Pancasila dengan sistem Demokrasi yang paling sempurna. (Saat itu dibandingkan dengan Demokrasi terpimpin, Komunis, dan Liberal). Benar-benar paling pas dan paling baik (menurut cara pandang bangsa). Saat itu juga di gemborkan juga tentang musyawarah mufakat, menghargai pendapat, dan menghargai keberagaman.

Sungguh disayangkan. Apa yang dulu harus saya pahami, hapalkan, dan selalu keluar di ujian hanyalah masalah ‘formalitas’ semata. Kenyataannya, Indonesia jauh dari semua itu. Indonesia kian tumbuh menjadi bangsa yang (maaf) –cacat-.

Sekarang, lebih banyak terdengar pemberitaan-pemberitaan miring tentang keberagaman. Contoh nyata, pasal 29 UUD ’45 menyatakan tentang kebebasan beragama. Tapi apa yang ada? Masih banyak masyarakat kita yang masih sulit menjalankan ibadah agamanya. Bukan untuk golongan minoritas saja, golongan mayoritas pun kadang masih dihalangi dan ditekan dalam menjalankan ibadahnya. Terkadang, hanya karena –paksaan kepercayaan- dari beberapa pihak. Sungguh disayangkan.

Tak jauh sebelum ini, diskusi buku karangan Irshad Manji pun terjadi kehebohan. Entah apa yang mendasari orang-orang yang –kontra- terhadap buku ini tega dan tanpa menggunakan akal sehat merusak dan membubarkan acara diskusi. Saya memang belum membaca isi bukunya dan terlepas dari isi buku itu, yang sangat disayangkan adalah dimana demokrasi yang selama ini kita –Anda mungkin banggakan-. Diskusi, adalah wadah dimana pihak-pihak terkait mengutarakan pendapat dan melakukan interaksi komonikasi sehingga bias diambil kesimpulan bersama. Yah, bukankah itu demokrasi? Kenapa dilarang? Kenapa haruis dibubarkan dengan paksa dan kekerasan? Come on Guys! We are not stupid, we are not –bar bar-, we are not in prehistoric time. Setiap topik selalu ada pro dan kontra. Itulah kenapa diskusi diadakan. Jika memang tak setuju, silakan dating ke diskusi tersebut, dengarkan, aktif berpendapat –yang berdasar tentunya-, silakan diambil kesimpulan bersama-sama. That’s democracy.

Baru selesai masalah Irshad Manji, muncul polemic Lady Gaga. Segelintir –atau mungkin banyak-, mengecam dan melarang artis papan atas tersebut dengan alas an –yang menurut saya- kurang masuk akal. Sebelum membahas ke alasan-alasan ‘cerdas’ itu, saya sekali lagi sampaikan segala sesuatu pasti ada pro dan kontra. Hanya, tingkat kecerdasan seseorang lah yang bias membedakan bagaimana mengambil kesimpulan dari pro dan kontra tersebut.

Pelarangan dengan alasan sang Diva terlalu erotis dan membawa ajaran setan yang ditakutkan bisa merusak moral bangsa –yeah, bangsa kita memang suci sekali- sangat lucu. Kenapa lucu? Dengan sendirinya, tindakan itu menggambarkan seberapa kuat iman dan moral kita. Kalau bangsa kita bangsa yang ‘kuat’, seribu Mother Monster pun tak akan meluluh lantakkan ‘kesucian’ bangsa kita. That’s my point.

Pelarangan yang timbul lebih terkesan mengada-ada dan memaksa, Kenapa? Terlihat sisi keegoisan segelintir kelompok. Jika memang menurut Anda dengan menonton LG itu tidak baik, ya sudah, tidak usah nonton. Jangan dengan alasan membela bangsa, menghindarkan bangsa dari pengaruh buruk –setan-, kita bangsa –yang beragam- juga dipaksa mengikuti kemauan dan kepercayaan Anda. Saya boleh bilang itu egois nggak sih? Memang egois.

Dalam hal ini, pemerintah dan aparat juga terlihat –mandul-. Terkesan tidak tegas dan mengada-ada. Tidak ada tanggapan dan keputusan yang diambil terkesan –terpaksa, takut,dan mencari aman-.

Hey kawan, kita demokratis bukan? Kenapa kita tidak duduk dengan pihak promotor dan LG tentang hal-hal yang boleh ditampilkan dan tidak ditampilkan oleh Gaga? Banyak yang berkeluh –negara lain saja menolak, kenapa Indonesia menerima-? Mas Mbak, negara lain memang menolak, tapi mereka memberi kesempatan konser dengan catatan. Korea misalnya, yang dipebolehkan menonton hanya yang berusia 18 tahun ke atas, di Manila, konser juga dipantau (jika dipandang menyimpang, akan dihentikan).

Kenapa kita tidak berfikir seperti itu? Just let Gaga shows appropriately in costume and songs. Katakan pada Gaga, ‘lo kalo bisa bajunya yang begini, lagu ini gak boleh dinyanyiin”. That’s it. Jangan hanya “tolaak tolaak,, haram haraamm,, setan setaan”. Come On! Tunjukkin kalo bangsa ini bangsa yang –dibilang- besar dan demokratis. Bukan saya membela Gaga, tapi hanya sedih dengan Indonesia yang –sekarat-

Jujur saya kadang kesal dengan ulah-ulah manusia Indonesia yang –terlalu memaksakan kepercayaannya- . Negara ini milik orang-orang dari Sabang sampai Merauke yang bermacam. Bisa saja lama-lama pakaian adat yang ada di Indonesia juga diharamkan. (Pakaian adat Indoenesia juga banyak yang tidak tertutup seutuhnya) jika kebiasaan –memaksaan kepercayaan- masih dibiarkan merajalela.

Tergantung kita, mau dibawa kemana negara ini. Negara yang –bangga akan keberagaman budayanya- atau negara yang –disamaratakan dari Sabang sampai Merauke-

Jangan sampai negara kita berubah nama menjadi dengan NK-RI(P).

In the name of democracy, I feel so sorry for my opinion. If there’s something not ok, it’s just a topic with pro and contra inside. =)

Salam

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s